Editorial
Now Reading
ArtJog 2015 – Infinity in Flux: Interaksi Sebagai Elemen Estetik Yang Dinamik
unnamed
144 0

ArtJog 2015 – Infinity in Flux: Interaksi Sebagai Elemen Estetik Yang Dinamik

by Anak DagangJune 19, 2015

Sewaktu saya menjejakkan kaki di Taman Budaya Yogyajakarta, saya berasa kagum dengan kebesaran glob hutan di ruang permulaan pameran seni ArtJog 2015. Ianya ditutupi penuh dengan daun-daun dan pancutan air di bahagian hadapan dilihat sebagai lubang ventilasi yang menyejukkan keadaan sekeliling. Langsung ia turut menghadirkan sesuatu yang penuh misteri dan penuh kekaburan, sesuatu yang menarik minat para pengunjung untuk terus masuk ke dalam. Ruang penerimaan pelawat direka sebaiknya dan kebesaran skalanya secara tidak langsung meningkatkan kebolehan ruang tersebut untuk menawarkan kata kunci yang lain: keselesaan bakal menunggumu di ruang yang pertama. Barangkali begitulah glob hutan tersebut memainkan peranannya; megah melawan tubuh-tubuh konkrit dan pencemaran bunyi bingit di sekeliling kawasan Taman Budaya.

indieguerillas

Commissioned Artist, Indieguerillas, Installation, 2015

Pameran seni ArtJog 2015 merupakan contemporary art fair terbesar di Asia Tenggara yang memaparkan hampir 100 karyawan dari dalam dan luar negara.  Pameran yang terwujud melalui tema “Infinity in Flux” ini terhasil daripada gerakan artistik Fluxus yang dimulakan oleh George Maciunas pada akhir tahun 50-an di New York. Dengan menolak konsep seni yang konvensional dan seringkali terjerumus ke dalam ruang elitisme, ‘sekolah baru’ ini berusaha menghasilkan karya seni yang menentang definisi seni koman khusunya mempersoalkan semula hubungan diantara penonton dengan para pengkarya.

Di sini saya perturunkan pernyataan kurator mengenai tema “Infinity in Flux”: “Interaksi antara karya dengan penonton, maupun interaksi antara satu penonton dengan penonton lainnya tentunya bergantung pula pada sistem komunikasi, yang saat ini terbilang cepat berkat koneksi internet. Kondisi ini tentunya lambat laun juga akan berimbas pada karya yang ditampilkan. Seniman sekarang tidak hanya berkutat pada satu tema, namun juga mengolah alat, bahan serta teknik yang ada pada saat ini. Imbasnya adalah, karya yang dibuat tidak hanya memanjakan satu indra saja, namun hampir semua indra kita akan bisa ikut merasakannya. Unsur-unsur selain visual (misalnya gerak, bunyi, bau, rasa, dan lain-lain) akan lebih diolah dan menjadi satu kesatuan bahkan semua indra kita dalam mengapresiasi karya tersebut.”

Hubungan ataupun interaksi yang ditekankan oleh kurator, saudara Bambang “Toko” Witjaksono adalah indikasi yang menyatakan bahawa seni itu sendiri tidak harus lagi berjarak dengan para audiens, malah harus diusahakan lagi bagi merapatkan jurang tersebut sebagai pernyataan bahawa seni itu adalah milik semua.

Dan lagi interaksi yang terhasil bakal menciptakan sesuatu yang dinamis dan membuka ruang yang baru. Melalui setiap karya yang terhasil dengan segala data dan susunan karya yang informatif, ianya mengadakan suatu hubungan yang menekankan pelbagai deria yang dipunyai oleh manusia baik dari segi visual, pergerakan tubuh, bunyi, sentuhan, dan juga kondisi psikologikal para audiens.

Aditya Novali, Conversation Unknwon, Transparent plexiglass, Variable dimensions, 2015_1

Aditya Novali, Conversation Unknown, Transparent Plexiglass, Variable dimensions, 2015

Sempena lawatan seni saya ke sini, rasa terpesona ini benar-benar membuka sudut pandang yang baru dan segar mengenai kota ini. Kota yang merayakan seni sebagai sesuatu yang signifikan di dalam masyarakat mereka, Yogyakarta mempamerkan hampir 100 pameran seni pada bulan Jun sahaja. Itu sudah cukup untuk menyatakan bahawa seni dilihat sebagai teras utama bagi kota dan komuniti ini.

Saya bagi pihak The Daily Seni berasa benar-benar bertuah kerana berpeluang untuk mengajukan beberapa soalan kepada kurator, saudara Toko, berkenaan pameran seni ArtJog di Yogyakarta ini.

Saudara Bambang pernah juga menjadi kurator untuk pameran ArtJog tahun-tahun yang lepas. Sebagai contoh, tema yang dibawa pada tahun lepas adalah “Legacies of Power” yang menekankan aspek hubungan di antara penguasa dan golongan yang dikuasai. Untuk tahun ini pula, saudara membawa tema “Infinity in Flux” yang menekankan aspek hubungan diantara individu di dunia digital dan juga di era peralihan ataupun transisi. Adakah tema tahun lepas dan tahun ini mempunyai hubungan sesama sendiri dan bagaimanakah saudara menentukan setiap tema yang bakal dibawa?

“Tema tahun lepas tak ada hubungan dengan tema tahun ini. Tema dari tahun 2012-2014 mempunyai keterkaitan, yang berlatarbelakang sejarah dunia Timur yakni Indonesia. Untuk menentukan tema, ada banyak sekali unsur terkait. Tema tahun 2012-2014 merupakan serial, yang sudah saya fikirkan sejak tahun 2012. Untuk tahun ini, tema memang lebih berbeda, bukan lagi dengan pendekatan historis, tetapi lebih kepada sifat/jenis karya (intermedia dan interaktif). Sehingga tema yang diusung masing-masing seniman pun akan beragam.”

Jim Allen Abel, 2014, Retrospective Jaws, Video Installation, 300x250x150cm

Jim Allen Abel, 2014, Retrospective Jaws, Video Installation, 300 x 250 x 150cm

Menurut catatan kuratorial saudara, saat/peristiwa (iaitu keinginan para audiens untuk berselfie ataupun bersentuhan) dapat dilihat sebagai indikasi untuk membawa suatu pendekatan yang baru, iaitu pendekatan interaktif. Pada pandangan saudara, adakah definisi seni itu bakal berubah arah, jauh daripada konsep galeri seni yang konvensional, dan seringkali dilihat sebagai elitis? Kenapa?

“Definisi seni selalu akan berubah, sesuai dengan perkembangan jamannya. Jika seni = indah, maka arti keindahan pun bersifat dinamis. Seni sangat erat kaitannya dengan teknologi. Jika dahulu penggunaan jenis cat acrylic adalah suatu kemajuan teknologi, maka sekarang teknologi digital pun juga akan berkaitan dengan seni. Setiap muncul teknologi baru yang sesuai jamannya, akan menghasilkan hasil ekspresi yang baru pula, sehingga menuntut cara mengapresiasi karya dengan cara yang juga baru.

Seni yang konvensional akan tetap ada dan mempunyai audience tersendiri. Elitis atau tidak, adalah soalan politis. Dianggap elit karena karya seni konvensional masih mempertahankan originalitas, tunggal dan ada jejak kerja tangan. Nah, ketika jaman berubah ke arah kerja dan hasil karya yang massif/banal, mekanis, computerized, dll akan berubah pula pandangan orang tentang konsep originalitas, tunggal dan jejak kerja tangan tersebut.”

Heri Dono, Fermentation of Nose, Installation, Variable dimensions, 2015

Heri Dono, Fermentation of Nose, Installation, Variable dimensions, 2015

Melalui setiap karya yang dipamerkan, apakah tema itu dikirakan sukar dan begitu subjektif? Apakah cabaran yang dihadapi oleh para karyawan? Seperti karya Yoko Ono yang menekankan tema pendamaian itu seakan berdiri dengan sendirinya dan berbeda dengan karya yang lain – ada yang menekankan tema sumber alam, tema kehidupan dan lain-lain.

“Tema ‘Infinity in Flux’, memang lebih kepada jenis/sifat karya, bukan kepada tema/konsep dari karya yang dipamerkan. Ini adalah soalan bagaimana interaksi antara karya seni dengan penonton. Bagaimana karya seni pada jaman ini, dimaknai pula dengan cara pandang terkini. Sehingga tema personal dari masing2 karya akan berbeda-beda, dan itu tidak lagi menjadi masalah.”

Pendekatan interaktif melibatkan kerjasama para audiens untuk menggunakan pergerakan tubuh mereka, sentuhan, dan juga deria mereka. Apakah signifikannya pendekatan ini jika ingin dibandingkan dengan pendekatan konvensional iaitu seni visual yang berjarak dengan para audiens, berteraskan aspek visual dan pengamatan secara telus terhadap karya dan pernyataan daripada seniman itu sendiri?

“Saya pikir perbandingan itu akan selalu berakar pada jaman yang berbeda. Sehingga semakin dibandingkan, akan semakin terlihat pula cara pandang yang berbeda. Saya percaya jika seni itu dinamis, sehingga tidak akan berhenti pada suatu titik tertentu. Seni akan terus mengalir sesuai perkembangan jaman.”

Jompet Kuswidananto, 2014, Order and After, Installation, 3life-sized figures

Jompet Kuswidananto, 2014, Order and After, Installation, Three life-sized figures

Wujudkah kebarangkalian bahawa objektif karya itu sendiri bakal ditenggelami oleh aktiviti yang bakal dihasilkan?

“Memang menjadi hal yang riskan dan juga sulit untuk bisa menggabungkan konsep karya yang kuat, visualisasi yang bagus serta sifat karya yang intermedia/interaktif menjadi satu kesatuan dalam tujuan berkarya, namun bukan berati tak mungkin. Perlu pengalaman dan pembelajaran dalam hal itu. Jika karya seni rupa yang dihasilkan sudah merangsang indera lain selain mata (visual), maka perlu cara apresiasi baru dengan membuka semua indera kita dalam memahaminya.”


Karya-karya yang dipamerkan di ArtJog tahun ini, disatukan melalui penekanan interaktif diantara pengkarya dengan para audiens. Langsung yang terhasil adalah penghayatan karya yang berlainan. Dan apa yang diharapkan adalah pemahaman terhadap sesuatu karya itu supaya menjadi sesuatu yang lari daripada apa yang sering kita fahami.

Kedinamikan sesuatu karya itu juga berubah mengikut masa mahupun generasi. Transisi mengenai apa yang kita fahami tentang sesuatu karya itu juga berubah, langsung ianya bakal membentuk haluan yang baru.

“Dialog” diantara kedua-duanya bakal menjadi rencam berikutan jenis karya yang terhasil. Barangkali seni yang terus dihasilkan oleh anak-anak muda sekarang, bersertakan kemudahan teknologi yang baru, mampu membangkitkan perasaan ataupun nilai pemahaman yang berlainan tingkat daripada yang sebelumnya.

Harapan inilah yang dinyatakan oleh pameran seni ArtJog secara kolektifnya – harapan yang menyatakan bahawa seni itu tidak statik, malah bersifat organik dan aktif; hidup dan bernafas seiring dengan perkembangan tamadun manusia itu sendiri.

About The Author
Profile photo of Anak Dagang
Anak Dagang
Anak Dagang seorang warga kota Kuala Lumpur yang ingin terus menulis. Anak Dagang is a senior contributor to The Daily Seni.

Leave a Response